| JAKARTA-Produk sawit harus agresif membidik pasar di luar negara tradisional. Salah satu potensi baru tersebut dengan meningkatkan penetrasi pasar di Eropa Timur. Namun, untuk melakukan diversifikasi pasar harus diimbangi dengan akses transportasi memadai. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan mengatakan penetrasi pasar baru harus dilakukan agar ada diversifikasi negara tujuan ekspor. "Nah salah satu potensi itu adalah Eropa Timur dengan perkembangan ekonomi cukup pesat, seperti di Ukraina," urai dia kemarin (3/6). Akan tetapi upaya untuk memaksimalkan ekspor sawit ke Eropa Timur tersebut terkendala dengan sistem pembayaran. Menurut Fadhil, sistem pembayaran dengan negara-negara di kawasan tersebut belum sinkron. "Aturan secara finansial belum match. Karena pembayaran belum bisa berjalan cepat seperti dengan Eropa Barat," katanya. Selain itu, akses transportasi untuk pengiriman komoditas ekspor terhambat pada pelabuhan. Selama ini, pelabuhan hanya mengandalkan yang berada di Ukraina. "Karena kami juga melihat efisiensi. Seperti ke Eropa barat melalui Roterdam dan Jerman. Nah, ke Eropa timur harus dicari transportasi lebih murah," ungkap dia. Sebelum ini, Kementerian Perdagangan membidik Eropa timur sebagai pintu masuk sejumlah komoditas termasuk kakao dan kelapa sawit. Alasannya, pengembangan jalur pemasaran tersebut agar tidak bergantung pada rute tradisional. Sekaligus melakukan perluasan pasar karena program hilirasasi industri dalam negeri berjalan. "Nah kita mencoba melihat pintu masuk baru sebagai perluasan pasar, yakni kawasan Balkan, Eropa Timur dan Tenggara. Serta, bisa menambah jalur distribusi tradisional. Karena selama ini pintu masuk ke Eropa melalui Eropa Barat, Rusia, Rotterdam dan Hamburg," ucap Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar. Bahkan, penambahan pintu masuk baru tersebut bisa menjadi tempat transit untuk masuk ke seluruh wilayah termasuk ke Eropa Barat. Dijelaskan, pembukaan jalur baru tersebut memungkinkan penggunaan dua sarana transportasi baik melalui darat maupun sungai. "Di Eropa juga dikenal koridor ekonomi. Nah, Serbia itu masuk koridor 6 untuk jalur darat dan koridor 10 untuk jalur sungai," jelas Mahendra. Menurutnya, alasan itu yang menyebabkan pihaknya yakin untuk melakukan perluasan pasar sehingga tidak tergantung pada jalur pemasaran tradisional. Dua komoditas tersebut sudah diterima dengan baik oleh negara importir. Dicontohkan, tahun lalu paper Bank Dunia melarang kegiatan perdagangan minyak kelapa sawit. "Kemudian mereka melakukan revisi sehingga ada kerjasama atau interaksi secara aktif antara organisasi Bank Dunia dengan industri sawit. Saat ini perusahaan besar dan LSM internasional terlibat kesepahaman tentang sawit berkelanjutan 2015," terang dia pekan lalu.Sedangkan komoditas kakao terus mengalami pertumbuhan seiring penerapan bea keluar (BK). Kendati sempat menimbulkan gejolak, dampak positif pemberlakukan BK sudah terasa. Diuraikan, investor asing asal Malaysia telah membangun pabrik baru di Batam dengan kapasitas produksi 60 ribu ton per tahun dan ke depan akan terus dikembangkan.(res) pikirkan lah derita kami orang singkup yang semakin lama semakin menderita karna sawit.tolong bantulah kami .......... by yohanes luy leja tage (azland) |
Kamis, 16 Juni 2011
PERKEMBANGAN TENTANG SAWIT
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar